Perjuangan Orang Tua dengan ke 13 Anaknya

Dari struktur bangunan rumahnya bisa terlihat dengan jelas bagaimana kehidupan keluarga yang telah dikaruniai Allah tiga belas orang anak tersebut. Halaman rumah yang begitu luas dengan dihiasi beraneka ragam bunga yang harumnya selalu membuat orang yang menciumnya akan mampir dan singgah meski barang sejenak ke rumah yang sederhana nan megah tersebut. Tidak cuma itu saja, rumah yang menghadap ke utara tersebut bagian sisi kanannya dipadati dan dipenuhi dengan tumbuh–tumbuhan serta pepohonan yang rindang, ditambah sepoi–sepoinya angin yang semilir membuat udara semakin sejuk nan menyegarkan serta menambah keasrian komplek Pondok Pesantren Maskumambang tersebut.
Pondok ini terletak di kota Gresik yang terkenal dengan kota santri ini – karena memang kalau kita pergi kesana kita akan dapati berpuluh-puluh pondok pesantren tersebar di kota itu – terkenal dengan makanan pudaknya. Menurut historis, perkembangan Islam dimulai dari daerah pesisir yang dalam hal ini kota Gresik, Surabaya, Tuban mewakili provinsi Jawa Timur. Setelah kita telaah lebih lanjut memang banyak peninggalan bersejarah yang menunjukkan bahwa Islam telah tersebar dikota Gresik tersebut. Ada makamnya Sunan Maulana Malik Ibrahim. Makam Sunan Giri juga berada ditengah–tengah kota yang indah nan asri tersebut. Belum lagi ada makamnya seorang wanita yang menurut sejarah makam tersebut lebih mendahului para wali–wali tersebut. Maimunah binti Maimun, begitulah orang akrab mengunjungi makam yang berada di kecamatan Manyar itu. Berkat perjuangan para ulama–ulama tempo dulu akhirnya kita bisa menikmati dan merasakan manisnya pondok pesantren dan diantaranya pondok yang masih eksis tersebut adalah Pondok Pesantren Maskumambang.
Meski usia yang disandangnya kini tidak sebentar, kurang lebih dua abad pondok ini membimbing dan memberikan sumbangsih yang sangat berarti terhadap umat Islam di seluruh pelosok nusantara, pondok yang terletak di desa Sambungan Kidul tersebut masih kokoh berdiri siap menghadang arus globalisasi dan modernisasi yang setiap saat bisa menghanyutkan generasi – generasi yang terlena oleh godaannya.
Dari perawakannya bapak dari tiga belas anak tersebut yang sering dan akrab dipanggil dengan Ustadz Marzuki bisa diketahui bahwa beliau masih mempunyai darah–darah kekyaian. Dan memang benar halnya, bapak beliau yang bernama Kyai Haji Amar adalah putra dari Kyai Faqih, yang mana Kyai Faqih ini adalah putra dari pendiri Pon. Pes. Maskumambang yang bernama Kyai  Haji Abdul Jabbar. Dan setelah ditelusuri lebih jauh lagi pendiri pondok pesantren ini masih mempunyai keturunan darah biru. Beliau masih mempunyai silsilah sampai ke Jaka Tingkir. Sultan Kerajaan Pajang yang terkenal di sejarah kebudayaan Islam tersebut yang lebih akrab dengan sebutan Karebet.
Meskipun beliau saat ini bukan pemangku pondok pesantren beliau sangat terpandang di mata masyarakat. Karena yang memegang peranan pimpinan pondok sekarang adalah kakak ipar beliau yang dilahirkan dari keluarga kekyaian yang berasal dari daerah yang tidak berjauhan dari lokasi pondok pesantren tersebut.
Aktifitas Ustadz Marzukipun sangat padat, selain berdakwah dengan mengajar sebagai seorang guru di pondok pesantren itu, beliau juga aktif mengisi pengajian–pengajian di kampung–kampung sebelah. Tidak Cuma itu saja karena beliau punya karismatik, beliau juga sering diundang ke berbagai walimah, khususnya walimah pernikahan. Dengan penyampaian khutbah yang padat dengan nasehat–nasehat untuk kedua mempelai juga syarat dengan ilmu hati atau yang sering anda dengar dengan istilah menejemen qolbu.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari–harinya beliau tidak hanya menumpukan harapannya dengan bergelut di bidang pendidikan dan dakwah, tentu ini tidak akan mencukupi. Karena anda telah mengetahui berapa sih gaji di madrasah swasta? Anda juga bisa mengetahui seberapa tebal sih amplop yang diberikan kepada beliau sewaktu beliau mengisi ta’lim? Maka untuk menutupi kebutuhan keluarga beliaupun bergerak di bidang wirausaha yang sudah lama beliau geluti. Bermula dari kesenangan, bakat dan hobi sewaktu kecil beliau bisa merawat wirausaha tersebut. Karena sejak kecil beliau sangat senang merawat binatang seperti burung dan sejenisnya.
Maka ketika kita menoleh kebelakang rumah beliau, anda jangan kaget jika akan menemukan Kebun Binatang Ragunan Jakarta pindah kesana meski dengan lokasi yang lebih sempit, tetapi berbagai macam satwa terdapat di sana khususnya unggas. Anda akan menemukan berbagai macam unggas, karena setiap unggas mempunyai jenis yang berbeda. Unggas ayam contohnya, beliau mempunyai lebih dari lima jenis ayam. Anda akan menemukan ayam bangkok (ayam yang terkenal sebagai tukang pukul dan jago kelahi). Bukan berarti beliau senang dan gemar sabung ayam, tidak sekali lagi tidak karena sabung ayam hukumnya haram karena sama saja dengan menyiksa hewan tersebut. Ada juga ayam kate (ayam yang dengan postur tubuh yang relatif lebik kerdil dibandingkan dengan ayam – ayam lainnya), ada ayam cemani (ayam yang mempunyai karakteristik warna hitam yang selalu melekat di kulit serta bulunya itu, yang memang agak kelihatan serem bagi yang melihatnya), ayam pelong (ayam yang mempunyai ciri khas kokoknya yang sangat panjang nan indah ditambah postur tubuh yang tinggi tegap menghadap kedepan membuat ayam tersebut lebih kelihatan terhormat), ayam kapas (yang bulunya mirip kapas yang sangat tipis dan ringan), beliau juga pernah memelihara ayam kampung, ayam arab, ayam potong meski jumlahnya tidak banyak tetapi yang penting bisa membuat semarak dan ramainya kandang–kandang di belakang rumah beliau tersebut.
Selain unggas ayam beliau juga merawat bebek, itik, angsa bahkan kelinci. Beliau juga tidak ketinggalan merawat dan mengembangkan satwa burung yang sudah lama menjadi hobi beliau, maka anda bisa mendapati burung merpati dengan berbagai jenisnya. Untuk meramaikan suasana beliau juga merawat burung–burung berkicau akan tetapi tidak di komersialkan. Ada burung parkit dan nuri yang selalu menghiasi halaman depan rumah beliau, burung kutilang dan burung perkutut juga yang selalu menunjukkan gigi mereka ketika pagi hari. Anda bisa bayangkan bagaimana ramainya suasana peternakan beliau ketika dingin pagi menusuk tulang.
Tidak cukup itu saja, beliau juga berternak kambing yang cukup lama beliau kelola. Meskipun kapasitasnya tidak banyak-kurang lebih empat puluh ekor kambing yang selalu akrab menyapa beliau ketika pagi hari-akan tetapi lumayan untuk tambahan income setiap hari. Dari kambing yang gemuk–gemuk tersebut beliau biasanya bisa menghasilkan sepuluh sampai dua belas botol besar susu kambing. Jam tiga dini hari biasanya beliau memulai aktifitas memerah susu kambing tersebut.  Ketika orang-orang masih terlelap dalam tidurnya, beliau sudah mensingsingkan lengan bajunya untuk aktifitas yang sangat mulia ini, beliau tidak menghiraukan dinginnya angin yang menusuk tulang, beliau tidak hiraukan keinginan mata yang mengajaknya bertamasya keranjang yang empuk, demi untuk mencukupi kebutuhan sehari–hari keluarganya, agar merekapun tidak kelaparan dan meminta-minta beliau sedia melakukan semua. Setelah selesai memerah susu–susu kambing tersebut beliaupun khusyu’ melakukan shalat tahajjud yang selalu beliau kerjakan di waktu sepertiga akhir malam tersebut dengan bermunajat kepada Allah agar selalu dilimpahkan kepadanya keberkahan atas karunia yang telah dianugerahkan kepadanya.
Harga susu kambing tadi pun terjangkau. Harga per botol berkisar Rp. 3.500,- – Rp. 5.000,-. Biasanya botol–botol susu tersebut dikirim dan diantar ke warung–warung kopi yang bertengger di tepian jalan. Ada sekitar tiga sampai empat warung kopi yang berlangganan susu kambing tersebut. Karena disamping ekonomis dan higenis susu kambing sangat baik untuk dikonsumsi. baik untuk kesehatan tubuh, telah terbukti secara riset klinis bahwa susu kambing banyak mengandung vitamin dan kalori yang dibutuhkan oleh tubuh. Maka tidak heran banyak para tetangga sebelah yang sering pesan susu kambing ke beliau karena memang mereka sudah merasakan khasiatnya.
Istri beliaupun selalu setia mendampingi beliau dalam menghadapi semua polemik kehidupan yang selalu merintangi dan menghalangi beliau berdua, istri beliau juga begitu tekun dan sabar mendidik putra–putrinya dengan kasih sayang seorang ibu, maka nanti bisa dilihat bagaimana prestasi anak–anaknya kedepan. Dengan berbekal kesabaran dan tawakkal kepada Allah swt merekapun bisa melewati semua rintangan yang menghadang, onak duripun mereka lalui dengan mudah.
Terkadang akal tidak mampu melogika. Bapak dari ke13 anak ini mampu dan berhasil menyekolahkan mereka. Tiga orang anaknya sudah mendapat gelar S-1. Beliau berhasil mengantarkan mereka ke jenjang perguruan tinggi. Bukan perguruan tinggi lokal yang mereka masuki akan tetapi perguruan tinggi faforit yang berada di ibu kota Jakarta yang menjadi jantungnya Indonesia tersebut. Perguruan tinggi mereka ini satu–satunya perguruan tinggi di Asia Tenggara yang sekarang kapasitas mahasiswa/inya  mencapai  kurang lebih 1200 mahasiswa. Dengan standar kompetensi bahasa arab yang diakui oleh pemerintah Indonesia, LIPIA begitu orang–orang akrab menjuluki kampus yang telah berdiri semenjak tahun 1980 yang lalu. Tidak diragukan lagi kemampuan bahasa arab mahasiswanya.
Dua putra beliau sudah mendapat gelar Lc. (Lisence, sederajat dengan S1) dari kampus yang mempunyai kepanjangan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab tersebut. Dan insya Allah tahun 2010 depan ada putra beliau yang lain juga termasuk teman akrab penulis menyusul kakak–kakaknya mendapatkan gelar Lc. tersebut. Tidak cukup di LIPIA saja putra–putri beliau melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi, ada yang pernah kuliah di Al-Qudwah yang berada di kota Depok, ada juga yang pernah merasakan kuliah di Al-Hikmah Jakarta, dan ada juga yang pernah mengenyam bangku kuliah di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di kota Sidoarjo – kota yang terkena bencana Lumpur dua tahun yang lalu – menjadi saksi sejarah atas apa yang dilakukan oleh keturunan kyai tersebut.
Bahkan ada salah satu putra beliau yang pernah menginjakkan kakinya di negeri padang pasir Arab Saudi. Di kota Madinah di mana Rasulullah SAW. dimakamkan di situlah beliau melanjutkan studynya, dengan mengambil jurusan hadist yang beliau tempuh dalam waktu empat tahun dengan hasil akhir yang begitu memuaskan, disamping beliau bisa kuliah gratis disana beliau juga bisa menunaikan ibadah haji. Dalam kurun waktu empat tahun tersebut beliau juga sempat menghajikan keluarga–keluarga beliau yang belum bisa mengunjungi kota suci tersebut.
Prestasi putra–putra beliau tidak cukup di situ saja, bahkan bulan kemarin putra–putra sulung beliau mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di daerah Jawa Timur khususnya di kota Malang dan Surabaya. Meskipun belum ada kejelasan tentang keberhasilan kedua putra tersebut untuk mengemban amanah di pundak–pundak mereka berdua akan tetapi ini sebuah prestasi yang sangat dibanggakan oleh orang tua yang hidup sederhana. Putra–putra sulung beliau juga melanjutkan studi mereka di program Magister. Salah satu dari putra sulungnya tadi diamanahi menjadi mudir (rektor) di sebuah institut bahasa arab di kota Malang. Sedangkan saudara–saudaranya yang lain menjadi dosen di salah satu institut bahasa arab di Surabaya yang bernama Ma’had Umar bin Khattab dan perguruan tinggi Muhammadiyah di kota Sidoarjo.
Jika dilihat dari perekonomian yang beliau gerakkan dan yang beliau putarkan terus saat ini, menurut akal yang sehat beliau akan kesulitan untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Haji sebagai idaman setiap seorang muslim, tidak semua orang muslim yang kaya bisa kesampaian pergi kesana, karena banyak kita dapati orang yang berkecukupan berlomba–lomba untuk melaksanakannya akan tetapi banyak dari mereka yang impiannya belum kesampaian.
Biaya haji yang tiap tahun kian tinggi melejit kelangit sementara  kekuatan rupiah kian hari kian melemah membuat orang–orang muslim di Indonesia dari tingkat menengah ke bawah merasa keberatan dan kesulitan untuk menunaikan ibadah yang sarat dengan berbagai macam bentuk ibadah di dalamnya. Dan jika mereka bisa melaksanakannya mereka terlebih dulu menunggu 3 sampai 4 tahun kedepan.
Memang karunia Allah SWT. itu diberikan kepada hamba–hamba-Nya yang Ia kehendaki. Suatu ketika beliau ditawari oleh seseorang yang masih mempunyai hubungan kerabat dari pihak istri beliau yang menjabat sebagai Bupati kota Gresik tersebut. Beliau ditawari untuk menunaikan haji secara gratis alias cuma Cuma. Siapa sih yang tidak mau ditawari kesempatan emas tersebut?. Sebelumnya ada seseorang yang ditawari untuk bisa menunaikan haji, akan tetapi dikarenakan suatu sebab maka orang tersebut mengundurkan diri, dan akhirnya dengan izin Allah swt bapak dari 13 orang anak ini pun memenuhi ajakan tersebut dan akhirnya bisa melaksanakan ibadah haji yang selama ini beliau impikan dan beliau cita–citakan.
Ketika sampai Masjidil Haram beliaupun mengucurkan air mata, rasa haru yang diiringi syahdu dan khusyu’ berpadu menjadi satu, masjid yang memiliki keutamaan yang luar biasa tersebut sebagaimana yang bijelaskan di hadits–hadits bahwa “satu rakaat yang Anda kerjakan itu berimbang dengan 100.000 raka’at yang Anda kerjakan di masjid–masjid selainnya” membuat beliau bisa melaksanakan ibadah haji dengan khusyu’. Ketika di sanapun beliau bertemu dengan putra beliau yang masih duduk di bangku kuliah di kota Madinah. Rasa senang yang bercampur syahdu menjadi satu. Betapa senangnya seorang bapak bisa menunaikan ibadah haji dengan cuma–cuma kemudian dipertemukan Allah dengan anak beliau yang kuliah di negeri yang di penuhi dengan pasir ini. Mudah–mudahan Allah SWT. menerima kebaikan beliau semua. Amiiin.
Di tulis oleh: Saifuddin Yahya

One response to “Perjuangan Orang Tua dengan ke 13 Anaknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s